Palembang. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) memperkuat langkah preventif menghadapi ancaman banjir di wilayahnya melalui kolaborasi intensif bersama perguruan tinggi. Hal ini ditandai dengan audiensi antara Gubernur Sumsel, H. Herman Deru, dan Direktur Pascasarjana Universitas Bina Darma Palembang, Prof. Dr. Ir. Achmad Syarifudin, M.Sc., PU.SDA., di Ruang Tamu Gubernur, Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (20/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas rencana perhelatan Seminar Nasional Mitigasi Banjir sekaligus pembukaan kembali Sidang I Dewan Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Sumsel yang rencananya akan diselenggarakan pada November 2026 mendatang. Sidang Dewan SDA ini menjadi momen krusial mengingat lembaga tersebut sempat vakum selama tiga tahun terakhir.
Direktur Pascasarjana Universitas Bina Darma, Prof. Achmad Syarifudin, menyampaikan bahwa pihaknya bersama akademisi serta mitra terkait mengambil inisiatif untuk memberikan kontribusi nyata menanggulangi prediksi siklus banjir 2 hingga 5 tahunan. Mengingat riwayat banjir bandang yang pernah melanda wilayah Sumsel pada rentang 2021 dan 2022, kajian ilmiah dan mitigasi komprehensif sangat perlu untuk dilakukan.
"Kami ingin mengumpulkan seluruh elemen, mulai dari perguruan tinggi, stakeholder, OPD terkait, hingga mahasiswa untuk membahas mitigasi banjir yang diprediksi berpotensi terjadi. Fokus utamanya adalah aliran Sungai Musi. Acara inti nantinya mendengarkan serta menanggapi kesiapan para bupati dan wali kota di zona yang berpotensi terdampak," ujar Prof. Achmad.
Gubernur Sumsel, H. Herman Deru, menyambut baik dan memberikan dukungan penuh terhadap rencana agenda nasional tersebut. Menurutnya, masalah banjir di Sumsel dipengaruhi oleh kombinasi kondisi topografi yang berelevansi ekstrem di titik-titik tertentu, curah hujan tinggi, serta penyumbatan saluran air yang mengakibatkan luapan tak terkanalisasi.
"Secara teoritis, seluruh muara sungai besar berakhir di Palembang. Kita khawatir jika terjadi hujan berdebit besar, baik di hulu maupun di hilir. Kosakata banjir selalu identik dengan bencana, namun sepaham saya sebagai orang awam bahwa banjir adalah debit air besar yang tidak terkendali," ungkap Herman Deru.
Herman Deru mengapresiasi kontribusi akademis dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan dan berharap seminar ini dapat melahirkan rekomendasi konkrit yang dapat langsung dieksekusi oleh pemerintah pusat maupun daerah.
"Ini niat yang sangat mulia. Kita butuh solusi jangka panjang dan pendek, seperti normalisasi dan kanalisasi air. Saya berharap produk dari seminar ini dapat merekomendasikan solusi yang sifatnya anjuran langsung, aplikatif, namun tetap low cost (berbiaya efisien)," pungkasnya.
Pemprov Sumsel berharap sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan ini mampu menghasilkan pemetaan bencana yang presisi serta langkah penanganan yang efektif guna melindungi masyarakat dari ancaman banjir bah di masa mendatang.